Kamis, 23 Juni 2016

Seputar Permasalahan I'tikaf

1. Hikmah

Al-Allamah Ibnul Qayyim رحيمه الله berkata: “Dan (Allah) syari’atkan i’tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah dan kumpulnya hati kepada Allah, berkhalwat denganNya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk, hanya menyibukkan diri kepada Allah semata.


Beliau juga menyebutkan diantara tujuan i’tikaf adalah agar supaya kita bertafakkur (memikirkan) untuk selalu meraih segala yang mendatangkan ridha Allah dan segala yang mendekatkan diri kepadaNya dan mendapatkan kedamaian bersama Allah sebagai persiapan kita menghadapi kesepian di alam kubur kelak.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin رضي الله عنه berkata: “ *Tujuan dari pada i’tikaf* adalah untuk *_memutuskan diri dari manusia untuk meluangkan diri dalam melakukan ketaatan kepada Allah di dalam masjid agar supaya meraih karunia dan pahala serta mendapatkan lailatul qadar.


Oleh sebab itu hendaklah seorang yang beri'tikaf menyibukkan dirinya dengan berdzikir, membaca (Al-Qur’an), shalat dan ibadah lainnya.
Dan hendaklah menjauhi segala yang tidak penting dari pada pembicaraan masalah dunia, dan tidak mengapa berbicara sedikit dengan pembicaraan yang mubah kepada keluarganya atau orang lain untuk suatu maslahat, sebagaimana hadis Shafiyyah Ummul Mukminin رضي الله عنهما berkata: “Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم beri’tikaf lalu aku mengunjunginya pada suatu malam dan berbincang dengannya, kemudian aku bangkit untuk pulang lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bangkit bersamaku (mengantarkanku).” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Makna I’tikaf yaitu berdiam (tinggal) di atas sesuatu


Dan dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai mu’takif dan ‘akif (orang yang sedang i’tikaf).

3. Disyari’atkannya I’tikaf dan Waktunya

_Disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainnya sepanjang tahun_.
Telah shahih bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم beri’tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Syawwal. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan sahabat Umar رضي الله عنه pernah bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini pernah bernadzar pada jaman jahiliyyah (dahulu), (yaitu) aku akan beri’tikaf semalam di Masjidil Haram ?” Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tunaikanlah nazarmu.” Maka ia (Umar) beri’tikaf semalam.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis sahabat Umar ini adalah dalil bahwa _i’tikaf boleh dilakukan diluar bulan Ramadhan dan tanpa melakukan puasa, karena i’tikaf dan puasa adalah dua ibadah yang terpisah dan tidak disyaratkan untuk menggabungkan keduanya_, ini adalah pendapat yang benar.

Diperbolehkan pula i’tikaf beberapa saat (tidak dalam waktu lama)_.
(“Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’”, Karya Syaikh Utsaimin 6/508-509 dan 6/511..).

Yang paling utama adalah pada bulan Ramadhan_, berdasarkan hadits Abu Hurairah رضي الله عنه , bahwasanya _Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلم beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari_ dan manakala tiba tahun yang dimana beliau diwafatkan, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Bukhari).

Dan yang lebih afdhal lagi adalah pada akhir bulan Ramadhan*, karena *_Nabi صلى الله عليه وسلم beri’tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Ta’ala mewafatkan beliau. (HR. Bukhari dan Muslim).

Seseorang yang berniat i’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan *hendaklah memulai i’tikafnya pada hari keduapuluh Ramadhan sebelum matahari terbenam*, jadi *_malam pertamanya adalah malam keduapuluh satu Ramadhan_*.
(Lihat “Al-Mughni”, Ibnu Qudamah 4/489-491, “Mukhtashar Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab” An-Nawawi 6/211, “Fiqhus Sinnah”, Sayyid Sabiq 1/622-623, dan “Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’”, Karya Syaikh Utsaimin 6/521).

4. Hendaklah I’tikaf Dilakukan di Masjid

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”(QS. Al-Baqarah: 187).
Ayat tersebut juga sbg dalil atas diharamkannya jima’ dan segala pendahuluannya, seperti mencium dan meraba dengan syahwat- bagi orang yang i’tikaf.

I’tikaf boleh dilakukan di semua masjid*, akan tetapi yang paling afdhal adalah i’tikaf di tiga masjid (Masjidil Haram Mekkah kemudian Masjid Nabawi Madinah kemudian Masjdil Aqsha Palestina) sebagaimana. Sabda Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلم* *“Tidak ada i’tikaf (yang lebih sempurna dan afdhal) kecuali di tiga masjid (tersebut)."
(HR. AbduR Razzaq dalam “Al-Mushannaf” (8037) dengan sanad sahih.

Lihat “Shifat Shoum Nabi“ hlm 93 dan gabungkan dengan “Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’”, Karya Syaikh Utsaimin 6/505).

5. Wanita Boleh Beri’tikaf di Masjid*
Bersama suaminya atau sendirian, sebagaimana dikatakan Aisyah . رضي الله عنه :
“Bahwasanya *_Nabi صلى الله عليه وسلم beri’tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau. (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحيمه اللّه berkata: “Dalam hadis tersebut ada dalil bahwa boleh wanita beri’tikaf. Dan *_tidak diragukan lagi bahwa hal itu terikat oleh ijin dari wali mereka, aman dari fitnah (hal-hal yang tidak di inginkan) dan tidak terjadi kholwah (berdua-duan) dengan laki-laki berdasarkan dalil-dalil yang banyak tentang hal tersebut_* dan *juga kaidah fiqih*: Menolak kerusakan hrs didahulukan daripada mendatangkan kebaikan.

6. Tidak Keluar dari Masjid Kecuali Seperlunya

Hendaklah orang yang i’tikaf tidak keluar dari masjid selama ’tikaf kecuali seperlunya, sebagaimana dikatakan Aisyah رضي الله عنه : Yang sunnah bagi orang i’tikaf adalah tidak keluar, kecuali untuk perkara yang mengharuskannya keluar.
(HR. Al-Baihaqi dengan sanad sahih)

Aisyah رضي الله عنه berkata pula: “Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم apabila i’tikaf tidak masuk rumah, kecuali karena hajat manusia.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Keluar dari masjid ketika ’tikaf ada tiga macam_:

a). Keluar untuk suatu perkara yang merupakan keharusan* seperti, *_buang air besar dan kecil, berwudhu dan mandi wajib atau lainnya seperti makan dan minum_*, ini adalah *boleh apabila tidak memungkinkan dilakukan di dalam masjid.

b). Keluar untuk perkara ketaatan* seperti, menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah, hal ini tidak boleh dilakukan kecuali apabila dia telah berniat dan mensyaratkannya di awal i’tikaf.

c). Keluar untuk perkara yang menafikan i’tikaf seperti: untuk jual beli, jima’ dan bercumbu dengan isterinya dan yang semacam itu, hal ini  tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan i’tikaf dan menafikan maksud dari i’tikaf.  
(Oleh:Abdullah Saleh Hadrami)

[“Majelis Syahr Ramadhan” hlm 160 Karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -Rahimahullah].

Selasa, 21 Juni 2016

NUZULUL QUR'AN, Sebuah Refleksi

Pada malam hari di bulan ramadhan yang mulia ini, kita tengah memperingati malam Nuzulul Quran. Di mana “mayoritas” ulama berpendapat bahwa saat diturunkannya wahyu pertama al-Quran yaitu terjadi pada bulan suci ramadhan. Hal ini juga diperkuat dengan firman Allah swt dalam surat al-Qadr (1-5).

Sekalipun mayoritas ulama berpendapat turunnya al-Qur’an terjadi pada bulan suci Ramadhan, namun hal ini tidak menyampingkan adanya perbedaan pendapat seputar tanggal atau waktu turunnya al-Qur’an tersebut. Ada di antara sahabat Nabi dan ulama yang meriwayatkan bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada tanggal 17 ramadhan, ada pula yang mengatakan 21, dan adapula yang berpendapat tanggal 23, 24 dan seterusnya. Kenapa terjadi perbedaan di antara para sahabat tentang persisnya tanggal Nuzulul Qur’an tersebut. 

Hal ini dapat dijawab, bahwa memang tidak ada keterangan resmi yang datang dari baginda rosulullah saw mengenai kapan tepatnya tanggal diturunkannya al-Qur’an tersebut. Sehingga semua perkataan dan pendapat yang sempat ditulis oleh ulama adalah murni hasil ijtihad dan pendapat para sahabat belaka. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menuliskan, bahwa terdapat kurang lebih 40 pendapat ulama seputar kapan Nuzulul Qur’an tersebut.

Dalam sebuah riwayat, pernah dinyatakan bahwa baginda ralulallah saw hendak menyampaikan berita gembira tentang kapan kah tepatnya malam Nuzulul Qur’an atau Lailatul Qadr tersebut. Namun ketika beliau hendak menyampaikan berita tadi, tiba-tiba terdapat dua orang sahabat yang tengah bertengkar sengit di dalam masjid Nabi, maka melihat kejadian tersebut maka rasulullah enggan menyampaikan kabar berita tersebut, atau tepatnya keinginan untuk menyampaikan itu tiba-tiba sirna ketika melihat kejadian tersebut.

Namun demikian, sesungguhnya dengan tidak jadinya rasulallah mengabarkan berita di atas, terdapat hikmah yang laur biasa bagi ummat seluruhnya; yaitu, agar kita senantiasa bersungguh-sungguh mencari kapan tepatnya malam tersebut tiba. Dengan tidak adanya kabar yang pasti tentang malam Nuzulul Qur’an ini, seharusnya membuat kita tidak bermalas-malas dalam mencari anugerah malam tersebut. Justru dikhawatirkan jika kita telah mengetahui pasti waktu malam Nuzulul Qur’an tersebut, malah kita hanya mengandalkan hari itu untuk beribadah kepada Allah, sementara pada waktu-waktu lainnya kita tinggalkan tanpa nilai ibadah sedikitpun. Tentu hal ini amat sangat bertolak belakang dengan semangat ramadhan yang merupakan bulan yang tidak hanya menuntut keimanan kita, namun juga keihlasan hati kita untuk beribadah selama satu bulan penuh, atau dalam bahasa agamanya biasa kita kenal dengan istilah “al-iman wa al-ihtisab.”

Lalu bagaimana sejarahnya, kenapa kita dan khususnya masyarakat muslim Indonesia memperingati Nuzulul Qur’an ini pada tanggal 17 ramadhan seperti saat sekarang.? Ternyata jika kita membaca sejarah bangsa kita, peringatan Nuzulul Qur’an yang jatuh pada tanggal 17 ramadhan ini tidak lepas dari gagasan H. Agus salim dan persetujuan Bung Karno (Presiden RI pertama). Seperti yang kita maklum bahwa bangsa kita mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Maka sebagai rasa syukur yang tiada terhingga atas nikmat kemerdekaan ini pula, maka perayaan Nuzulul Qur’an disamakan tanggalnya yaitu sama-sama mengambil angka 17 bulan ramadhan. Seakan-akan para fouding fathers kita hendak mengatakan bahwa, mensyukuri nikmat kemerdekaan, tidak kalah dengan mensyukuri nikmat turunnya al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman ummat Islam. Maka mulai saat itu -di zaman Bung Karno- sampai sekarang peringatan nuzulul Qur’an senantiasa diperingati di istana Negara pada tanggal 17 ramadhan dan kerap diikuti oleh sebagian besar ummat muslim di Indonesia. Untuk lebih detailnya silakan dilihat sebuah buku “Bung Karno dan Wacana Islam” (Kenangan 100 Tahun Bung Karno)

Sebetulnya jika kita telusuri keterangan yang berasal dari Hadits nabi Muhammad, bulan suci ramadhan ini tidak hanya dikhususkan bagi turunnya al-Qur’an saja. Namun juga bagi kitab-kitab ummat yang terdahulu, seperti, Injil, Taurat, Zabur dan Shuhuf Ibarahim, seluruhnya Allah turunkan di bulan suci ramadlan ini. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad RA:

“ Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal bulan ramadhan, kemudian Taurat pada tujuh bulan ramadlan, lalu Injil pada 13 ramadlan, sedangkan al-Qur’an pada 25 ramadlan.”

Sekalipun seluruh kitab-kita samawi itu sama-sama diturunkan pada bulan suci ramadhan, namun terdapat beberapa kelebihan al-Qur’an di banding kitab-kitab yang lainnya. Paling tidak kelebihan tersebut dapat dilihat dalam beberapa hal:

1. Bahwa seluruh kitab-kitab samawi Allah turunkan secara sekaligus, sedangkan al-Qur’an Allah turunkan secara berangsur-angsur.
2. Seruan atau petunjuk yang terdapat dalam kitab-kitab samawi terbatas pada ummat saat kitab tersebut diturunkan, sedangkan al-Qur’an petunjuk dan seruannya tidak terbatas pada saat al-Qur’an itu diturunkan, namun mencakup seluruh manusia sampai dengan hari kiamat, bahkan termasuk juga bangsa Jin.
3. Seluruh kitab-kitab samawi tersebut mengalami pemalsuan, distorsi, bahkan hilang sama sekali dari muka dunia, sampai-sampai sekarang kita tidak dapat melihat wujud aslinya, sedangkan al-Qur’an terjaga dari segala bentuk pemalsuan dan penyelewengan seperti di atas.


Terdapat suatu riwayat menerangkan (baca: kitab Muwafaqat, Imam Syatibi, Kitab Maqasid. H. 42), kenapa kitab-kitab samawi mengalami penyelewengan atau pemalsuan sedangkan al-Qur’an terjaga dari semua hal itu. Maka dijawab oleh Qadhi Abu Ishaq Ismail bin Ishaq, bahwa berkenaan dengan kitab-kitab terdahulu kenapa sempat terjadi pemalsuan dan penyelewengan, hal itu karena Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Sebagaimana Allah memerintahkan mereka untuk menjaga Kitab Allah (Al-Maidah: 44). Ayat ini mengandung pengertian bahwa, keutuhan dan keotentikan kitab suci mereka “murni” tergantung pada usaha mereka untuk menjaganya. 

Sedangkan pada al-Qur’an Allah tidak berkata demikian, akan tetapi “ Sesungguhnya Kami telah turunkan al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya” (al-Hijr: 9). Artinya, keutuhan dan keotentikan Al-Qur’an tidak semata-mata murni usaha manusia atau umat muslim saja, namun juga terdapat interfensi Allah Swt atasnya. Maka sangat wajar, jika sesuatu yang dilandaskan pada kekuatan yang berasal dari Allah sendiri, akan berbeda dengan kekuatan yang hanya berasal dari manusia saja.

4. Kelebihan “surat” al-Quran atas “surat-surat” kitab terdahulu. Para ulama tafsir berkata: "Al Quran lebih unggul dari kitab-kitab samawi lainnya sekalipun semuanya turun dari Allah, dengan beberapa hal, diantaranya: jumlah suratnya lebih banyak dari yang ada pada semua kitab-kitab yang lain. Telah disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Nabi kita Muhammad saw. diberi kekhususan dengan surat Al-Faatihah dan penutup surat Al-Baqarah. Di dalam Musnad Ad Darimi disebutkan, dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: "Sesungguhnya Assab’uthiwal (Tujuh surat panjang dalam Alquran; Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa,, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al-Maa-idah dan Yunus) sama seperti taurat, Al-Mi’in (Surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti Hud, Yusuf, Mu’min dan lain sebagainya) sama seperti Zabur dan Al-Matsani (Surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat. Seperti, Al-Anfaal, Al-Hijr dan lain sebagainya) sama dengan kitab Injil. Dan sisanya merupakan tambahan".

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Thabrani, dari Wasilah bin Al-Asqa, bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Telah diturunkan kepadaku Assab’uthiwal sebagai ganti yang ada pada Taurat. Diturunkan kepadaku Al Mi’in sebagai ganti yang ada pada Zabur. Diturunkan kepadaku Al Matsani sebagai ganti yang ada pada Injil, dan aku diberi tambahan dengan Al Mufashshal (surat-surat pendek).

Sebagaimana tema kita yaitu, apa urgensi al-Qur’an dalam Kehidupan Muslim. Namun sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa sekalipun isi al-Quran banyak menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, akan tetapi al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, atau sekalipun al-Qur’an sering menggambarkan alam kosmos beserta galaksinya, akan tetapi al-Quran tidak dapat kita sebut sebagai kitab astronomi. Atau sekalipun al-Quran sering mengupas tentang bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya ini, akan tetapi al-Quran bukanlah kitab pengetahuan Alam atau fisika. Melainkan yang tepat adalah al-Quran sebagai kitab hidayah atau petunjuk bagi seluruh alam. 

Jadi sekiranya terdapat cerita atau gambaran tentang hal-hal yang bertalian dengan geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan lain-lain, hal tersebut hanyalah berfungsi sebagai bukti dan penjelasan untuk mencapai kepada satu tujuan hidayah yang Allah maksud tadi. Maka dari itu, terdapat beberapa syarat agar kita dapat menemukan hidayat yang dimaksud oleh Allah swt dalam kandungan yang terdapat dalam al-Qur’an.

Yang pertama: Kita harus terlebih dahulu membaca al-Quran tersebut secara seksama, hal ini sebagaimana pesan wahyu pertama dalam surat al-Alaq, yang berbunyi (Iqra’) atau bacalah.!

Yang kedua: Kita harus memahami isi dan kandungan yang terdapat dalam surat dan ayat yang kita baca tadi. Hal ini disebabkan membaca saja tidak cukup untuk mengetahui rahasia kandungan dan maksud yang Allah maksud dalam al-Qur’an tersebut.

Yang ketiga: Setelah kita memahami isi dan kandungan al-Qur’an barulah kita mengajarkan kepada orang lain, agar orang lain pun dapat membaca dan memahami al-Quran secara baik. Sebagaimana hadits nabi yang diriwatkan oleh Usman bin Affan ra. dari Nabi saw. ia bersabda; "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain".(Bukhari). Al hafiz Ibnu Katsir dalam kitabnya Fadhail Quran halaman 126-127 berkata: Maksud dari sabda Rasulullah saw. "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkan kepada orang lain" adalah, bahwa ini sifat-sifat orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani para rasul. Mereka telah menyempurnakan diri sendiri dan menyempurnakan orang lain. Hal itu merupakan gabungan antara manfaat yang terbatas untuk diri mereka dan yang menular kepada orang lain.

Yang keempat: Mengamalkan ajaran dan kandungan yang terdapat dalam al-Qur’an. Pada tahap pengamalan inilah yang sangat berat, sebab pengetahuan yang didapat akan tidak berguna jika tidak dibarengi dengan pengamalan dalam prilaku dan perangai kita setiap harinya.

Dari keempat syarat ini barulah al-Qur’an akan dapat dirasakan manfaatnya oleh kita semua, oleh sebab al-Quran merupakan kitab petunjuk/hidayah. Apalagi jika kita benturkan dengan kebutuhan hidup saat ini. Di mana setiap orang dengan segala kemajuan dan kecanggihan yang dicapai oleh manusia, justru malah mereka mencari suatu sistem nilai yang mereka anggap absolut. Kita sebagai ummat Islam tentu tidak perlu lagi meragukan apalagi mencari-cari sistem nilai lagi kecuali pada al-Qur’an itu sendiri. Perlu dicatat bahwa kemunduran ummat Islam bukan terletak pada inti ajaran al-Qur’an atau disebabkan ummat Islam setia pada ajaran al-Qur’annya, sehingga alam pikir dan daya kreatifitas mereka terhambat oleh al-Qur’an, akan tetapi justru dikarenakan faktor budaya dan ummat Islam malah sedikit demi sedikit telah menjauhkan dari al-Qur’an.

Satu contoh, sangat ironis memang, di saat ajaran al-Quran menganjurkan kepada ummatnya untuk membaca, namun kenyataannya Negara dan ummat yang terbesar buta hurufnya justru adalah ummat Islam. Dapat kita lihat pula, terkait dengan minat baca umat Islam Indonesia, dan orang Indonesia secara umum sangatlah lemah. Namun sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, adalah ironis bahwa Muslim Indonesia belum mampu menerjemahkan wahyu pertama dalam kehidupan sehari-hari. 

Di belahan lain dunia Islam, kondisinya lebih baik. Di India dan Iran misalnya. Di kedua negara tersebut tradisi keilmuan yang memang telah lama mengakar terus lestari hingga kini. Dalam sejarahnya, bangsa Indonesia tidak memiliki satu peradaban dengan tradisi baca-tulis (baca: keilmuan) yang kuat. Dibutuhkan lebih dari sekedar kerja keras untuk menggapai hal itu. Nuzulul Quran bisa menjadi jawaban untuk semua itu. Dengan merujuk pada Al-Quran, adalah sahih untuk mengatakan bahwa menjadi seorang Muslim yang baik adalah menjadi pembaca yang baik. Semoga momentum Nuzulul Quran rasanya layak dijadikan pijakan awal transformasi budaya untuk lebih bersahabat dengan bacaan dan tulisan.

Sebagaimana yang telah kita singgung bahwa Surat al-‘Alaq ayat 1-5 adalah wahyu verbal pertama yang diterima Nabi saw. Dalam kisah pewahyuan ayat-ayat ini, Nabi dikisahkan ‘dipaksa’ oleh malaikat Jibril untuk membaca (iqra’/bacalah!). Tapi saat itu Nabi merespon dengan menjawab “Saya bukanlah seorang yang bisa membaca”. Ada sebuah analisis menarik dari Tariq Ramadan tentang peristiwa ini. Dia menulis bahwa karena Nabi adalah seorang ummi saat itu Nabi “mengungkapkan ketidakmampuan logis dan bila kemudian Nabi mampu membaca hal itu karena spiritualitas yang terkandung di dalam kalimat—‘dengan nama Tuhanmu’—membuka akses terhadap dimensi lain ilmu pengetahuan”.

Setidaknya ada beberapa hal yang menarik untuk dibicarakan. Pertama adalah bahwa Nabi saw., seorang ummi—tentang hal ini ada hikmah tersendiri dalam ayat lain—‘dipaksa’ untuk membaca. Hal ini memberikan impresi betapa Islam menekankan pentingnya membaca hingga dipilih seorang ummi, yang dipaksa untuk membaca, untuk menyampaikan pesan-pesannya. Kedua, keharusan untuk menyertakan spiritualitas dan keimanan dalam aktifitas pembacaan itu. Tentu hal itu tidak berarti meminggirkan peran nalar dalam proses pembacaan. Sebaliknya, rasionalitas (baca: ta’aqqul, tadabbur) adalah komponen utama dalam proses memahami dan menafsirkan ‘bacaan’, namun hal ini tidak boleh meminggirkan keimanan dan spiritualitas dalam prosesnya.

Selanjutnya, dalam analisis semantik bahasa Arab , pembuangan objek dari kata iqra’ memiliki implikasi bahwa objek yang dibaca adalah umum—disamping tentu saja Al-Quran sebagai kitab suci. Karenanya seorang yang beriman pada Al-Quran tidak perlu membatasi materi bacaan selama pembacaannya selalu menyertakan ismi Rabbik. Pada tataran epistemologis frase bismi Rabbik dapat dilihat sebagai rambu-rambu dalam ‘membaca’. Pembacaan tanpa menggunakan ismi Rabbik, katakanlah seperti filsafat sekuler—jika istilah ini disetujui, dapat melahirkan proses dan hasil yang berbeda dengan hasil pembacaan yang, sebutlah, Islami. Untuk sekedar menyebut contoh, bagi seorang rasionalis keraguan adalah metode epistemologis yang valid untuk mencapai kebenaran. Tapi hal ini ditolak oleh Al-Quran (10:36). Perintah membaca pada ayat pertama surat Al-‘Alaq dilanjutkan dengan isyarat terhadap pentingnya tulisan pada ayat keempat dan kelima. 

Tentang kaitan antara ayat 3-4 dan ayat sebelumnya, Al-Biqa’i menyatakan bahwa Allah mengajarkan pada Nabi saw. sekalipun saat itu beliau adalah seorang ummi sebagaimana Allah mengajarkan ilmu pada orang bodoh dengan pena. Disini terdapat penekanan terhadap pentingnya penulisan sebagai sarana transmisi ilmu yang dalam Islam mendapat tempat yang tinggi. Diantaranya adalah harus tersedianya sumber buku di Negara kita.

Dalam hal ini, berdasarkan data dari Intenational Publisher Association Kanada, produksi perbukuan paling tinggi ditunjukkan oleh Inggris, yaitu mencapai rata-rata 100 ribu judul buku per tahun. Tahun 2000 saja sebanyak 110.155 judul buku. Posisi kedua ditempati Jerman dengan jumlah judul buku yang diterbitkan pada tahun 2000 mencapai 80.779 judul, Jepang sebanyak 65.430 judul buku. Sementara itu, Amerika Serikat menempati urutan keempat. Indonesia pada tahun 1997 pernah menghasilkan lima ribuan judul buku. Tetapi, tahun 2002 tercatat hanya 2.700-an judul. Sangat jauh apabila dibandingkan dengan produksi penerbitan buku tingkat dunia.

Belum lagi jika kita hendak kaitkan dengan angka rasio doktoral di setiap Negara, Almarhum Nurcholish Madjid pernah menyanyangkan rendahnya kualitas SDM bangsa kita di banding bangsa-bangsa lainnya, terutama dari bangsa-bangsa Barat. Kita lihat saja, berdasarkan data internasional atas angka rasio doktoral di setiap Negara dihitung per-satu juta kepala, yaitu diantaranya: Mesir dari satu juta penduduk Mesir terdapat 400 doktor, India dari satu juta orang India terdapat 600 doktor, Amerika terdapat 6.500 doktor, Israel (Yahudi) terdapat 65.000. Sedangkan Indonesia, dari satu juta orang Indonesia hanya ada 75 doktor. Tentu untuk bisa bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain kita harus lebih meningkatkan SDM kita khususnya dalam dunia pendidikan.

Semoga dengan momentum Nuzulul Qur’an ini, kita dapat tergugah untuk meningkatkan kadar membaca kita, tentunya bacaan yang tidak melupakan aspek spiritualitas yang terkandaung dalam kalamt “bismirabbika” tadi. Dengannya kita dapat lebih mendekatkan diri kepada hidayah Allah swt. Sebab apa gunanya ilmu pengetahuan yang kita miliki, jika ia hanya akan menjauhkan diri kita dari keridlaan Allah swt. Wallahu’alam. (toquranhadist.blogspot.com)

Senin, 20 Juni 2016

"Jangan Biarkan Masjid Indah dan Megah ini Kesepian Kurang Jamaah"

Ketua DKM Al-Muhajirin,
H Sigit Tjiptono
Ketua RW-10 Antapani Kidul,
H. Dede Amar
Ketua Panitia Pembangunan Masjid,
H Mukhlis Effendi

Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, Pembangunan Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul telah selesai sesuai dengan yang kita harapkan. Ini tak lain berkat tekad kuat seluruh Pengurus dan Panitia Pembangunan Masjid serta dukungan dari warga RW-10 sehingga proses pembangunannya dapat berjalan relatif sangat lancar,  baik dari segi pendanaan maupun pengerjaannya. Selain tentu, saja ini karena berkah dan ridho Allah Subhanahu Wata'ala.

Demikian disampaikan Ketua DKM Al-Muhajirin , H Sigit Tjiptono, dalam sambutannya pada Peresmian Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul, Sabtu (18/6).

Menurut Sigit, kini Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani telah berdiri begitu kokoh, megah dan indah. Tentu saja ini merupakan suatu kebanggaan bagi warga RW-10 Antapani. Namun tidak cukup sampai disitu, yang terpenting justru bukan bagaimana membangga-banggakannya atau memandang keindahannya, namun bagaimana cara kita untuk memakmurkannya dengan mengisinya dengan berbagai program yang lebih mumpuni. "Jangan biarkan masjid megah dan indah ini namun sepi Jamaah,” tandas Sigit.

Karena itulah, lanjut Sigit, kita mempunyai berbagai program yang telah kita canangkan. Antara lain dalam seminggu kita melaksanakan Program Majelis Ta’lim, yakni pada Rabu Subuh, Sabtu Subuh, dan Minggu Malam. Namun khusus pada bulan Ramadhan ini, program ta’lim malamnya untuk sementara digeser dan diganti dengan program belajar membaca Al-Qur’an setiap habis ashar. Serta kajian Alqur’an dan Kultum secara berselingan, selepas Shalat Isya yang dilanjutkan dengan Shalat Tarwih.

H Sigit Tjiptono dalam kapasitas sebagai Ketua DKM, menyampai terima kasih kepada semua pihak yang telah turut berpartisipasi dalam proses pembangunan masjid kebanggaan RW-10 ini. Terutama kepada Panitia Pembangunan Masjid Al-Muhajirin, para donatur dari lembaga/instansi/yayasan, kepada Telkomsel atas kerjasamanya dalam penyewaan lahan untuk tower, terima kasih kepada warga RW-10 atas supportnya serta masyarakat pada umumnya yang telah turut membantu pendanaannya melalui sumbangan wakaf dan sedekah.

Pada kesempatan itu, H Sigit Tjiptono, sempat menyampaikan juga bahwa kepengurusan DKM Al-Muhajirin Periode 2012-2015 sudah berakhir, bahkan sudah melebihi batas waktu. Untuk selanjutnya menyerahkan kepengurusan DKM Al-Muhajirin kepada Ketua RW-10 dengan disertai permohonan maaf apabila selama berada dalam kepengurusannya ada kekurangan atau hal-hal yang tidak berkenan.

Sementara itu, Ketua RW-10, H Dede Amar, sangat terkesan dengan hasil pembangunan Masjid Al-Muhajirin RW-10 ini. “Ini sangat luar biasa. Benar2 hebat dan diluar perkiraan. Karena itu saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas prestasi yang luar biasa ini,” puji Dede Amar, seraya menyampaikan, selain tentu saja karena berkat ridho Allah SWT, juga karena dukungan seluruh warga RW-10 yang sangat positif.

“Setelah pembangunan Gedung Serbaguna RW-10 yang kini sudah menjadi yang terbaik di Antapani Kidul, maka kini penilaian saya Masjid Al-Muhajirin juga merupakan yang terbaik, termegah dan terindah di Antapani Kidul,” kata Dede Amar yang diiringi tepuk tangan jamaah hadirin.

Berkaitan dengan berakhirnya Kepengurusan DKM Al-Muhajirin, Dede Amar, menyampaikan usulan untuk melakukan Pengukuhan Kembali kepengurusan ini untuk Periode 2015-2018. Usulan mendapat sambutan jamaah sebagai tanda persetujuan untuk melanjutkan kepengurusan. Saya yakin, menurut Dede, kepengurusan ini akan lebih eksis dan mampu berbuat lebih banyak lagi melalui program-program DKM ke depan. “Oleh karena itu saya kukuhkan kembali Ketua DKM sekarang dibawah kepemimpinan sdr H Sigit Tjiptono, untuk menjabat kembali pada periode berikutnya. Sedangkan untuk staf kepengurusannya silakan untuk diatata atau dibentuk kembali,” tandas Dede Amar yang mendapat persetujuan dan tepuk tangan tidak kurang dari 100 orang ahli masjid Al-Muhajirin.

Menghabiskan dana hampir Rp 2 Milyar

Sementara itu Ketua Pembangunan Masjid Al-Muhajirin, H Mukhlis Effendi dalam laporannya menyampaikan bahwa pembangunan masjid ini membutuhkan dana Rp 1,93 M atau Hampir Rp 2 Milyar. Dana itu diperoleh dari Sewa lahan Tower Telkomsel Rp 500 juta, Donasi dari berbagai Instansi/Lembaga/Yayasan mencapai Rp 400 juta serta dari Warga RW-10 dan Masyarakat pada umumnya yang turut berwakaf/bersedekah mencapai lebih dari Rp 1 M.

Alhamdulillah, yang diawali dengan modal uang kas DKM, kemudian mendapat dana hasil sewa lahan tower Telkomsel, dengan iringan bismillah, dimulailah pembangunan masjid Al-Muhajirin pada akhir tahun 2014. Dengan berbagai problem dan liku2 permasalahan yang dihadapi, misalnya kami harus melakukan kerjasama dengan beberapa pihak ketiga padahal dana tidak mencukupi, namun berkat rahmat, karunia dan anugerah Allah Subhanahu Wata’ala, serta berkat tekad dan do’a seluruh jamaah Al-Muhajirin, akhirnya semua itu dapat diatasi dengan baik dan lancar.

Kalau dilihat dari nilai rupiahnya yang relative besar, karena pembangunan masjid ini bukanlah renovasi namun membangun kembali dari awal. Hal ini dilakukan terutama dalam upaya menggeser arah kiblat kearah yang lebih tepat. Selain itu mutu dari materialnya juga kami gunakan yang terbaik. Tentu saja dengan harapan dapat memiliki masa pakai yang panjang hingga puluhan tahun ke depan. 


Acara diisi juga dengan tausyiah dari Sekretaris Dewan Dawah Islam Indonesia, Ust Robin Balad, yang menyampaikan tema "Mewaspadai Bahaya Aliran Sesat di Jawa Barat yang Menyimpang dari Al-Qur'an dan Al Hadist." Selain ada juga acara pemberian santunan kepada kaum dhuafa bagi masyarakat di sekitar RW-10 Antapani Kidul. Serta penampilan para qori dan qoriqh cilik dari hasil penggemblengan salah satu program DKM untuk anak-anak warga RW-10. (*nas)